Muhammadiyah dan PBNU Teken 4 Pernyataan Bersama Untuk Kesatuan NKRI

by
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyambangi Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di kantor PP Muhammadiyah.
Dalam pertemuan itu, dua organisasi Islam terbesar tersebut sepakat melakukan kerja sama dalam bidang pendidikan, hingga kesehatan.
“Kita ingin membangun ta’awun kerja sama yang lebih aktif antara Muhammadiyah dan NU. Kita masing-masing punya usaha spesifik di mana NU kuat di pondok pesantren Muhammadiyah kuat di pendidikan umum dan kesehatan, sekarang (kami) sama-sama bergerak,” kata Haedar di Gedung Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Rabu (31/10).
Dalam pertemuan selama satu jam tersebut, kedua organisasi menyepakati 4 poin penting. Pernyataan bersama tersebut dibacakan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dan Sekjen PBNU Helmy Faishal. Dua poin pertama dibacakan oleh Helmy.
“(Kami) berkomitmen kuat menegakkan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan atas Pancasila sebagai bentuk dan sistem kenegaraan yang Islami. (Kami akan) menguatkan, memperluas kebersamaan dengan seluruh komponen bangsa dalam meneguhkan integrasi nasional dalam suasana yang damai, persaudaraan, dan saling berbagi untuk persatuan dan kemajuan bangsa,” kata Helmy.

Silaturahmi PBNU dan Muhammadiyah

Silaturahmi PBNU dan Muhammadiyah (Foto: Kevin Kurnianto/kumparan)

Selanjutnya, NU dan Muhammadiyah juga akan mendukung proses demokrasi yang bebas dari politik koruptif dan transaksional. NU dan Muhammadiyah berharap dalam pemilihan pemimpin berlangsung secara profesional dan konstitusional.
“(Kami) Mendukung sistem demokrasi dan proses demokratisasi sebagai mekanisme politik kenegaraan, seleksi kepemimpinan nasional yang dilaksanakan dengan profesional, konstitusional, adil, jujur, dan berkeadaban. Semua pihak agar mendukung proses demokrasi yang substantif serta bebas dari politik yang koruptif dan transaksional demi tegaknya kehidupan politik yang dijiwai nilai-nilai Agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur Indonesia,” kata Helmy.
Dua poin terakhir selanjutnya dibacakan oleh Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Abdul mengatakan NU dan Muhammadiyah akan bekerja sama mencerdaskan kehidupan bangsa. Di tahun politik ini, NU dan Muhammadiyaj juga meminta masyarakat menjaga toleransi di tengah perbedaan pilihan.
“Pada tahun politik ini semua pihak agar mengedepankan kearifan, kedamaian, toleransi, dan kebersamaan di tengah perbedaan pilihan politik. Kontestasi politik diharapkan berlangsung damai, cerdas, dewasa, serta menjunjung tinggi keadaban serta kepentingan bangsa dan negara,” kata Mu’ti.
NU dan Muhammadiyah, kata Mu’ti, juga berharap tak ada permusuhan di antara masyarakat, hingga sikap saling menjatuhkan antara peserta pemilu di tahuk politik.
“Hindari sikap saling bermusuhan dan saling menjatuhkan yang dapat merugikan kehidupan bersama. Kami percaya rakyat dan para elite Indonesia makin cerdas, santun, dan dewasa dalam berpolitik,” jelasnya.