Metode Analisa Tulang Ikan Terkait Akar Radikalisme Islam Di Indonesia

by

Munculnya isu-isu politis gerakan radikalisme Islam merupakan tantangan tersendiri bagi umat islam untuk menjawabnya. Isu radikalisme Islam sebenarnya sudah sangat lama mencuat dalam dunia internasional.

Hal itu diperparah dengan racikan media yang terus memasak matang-matang isu tersebut guna menciptakan persepsi masyarakat dunia akan radikalisme Islam. Racikan tersebut dikemas dengan varian menu yang bersifat antipatif. Mulai dari sebutan kelompok garis keras, ekstrimis, militan, fundamentalis, hingga sebutan terorisme.

Karena hal tersebut, ketergesa-gesaan dalam generalisasi menimbulkan masyarakat dunia tidak mampu memandang fenomena historis umat Islam secara objektif. Hal tersebut bukan berarti pembenaran terhadap praktik radikalisme yang dilakukan oleh sebagian umat islam. Karena pada dasarnya praktek radikalisme dengan atribut simbol Islam tidak lantas dapat digeneralisasi kepada Islam secara global.

Karena pada dasarnya, Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perdamaian dan kasih sayang. Pesan damai islam tidak hanya tertuang dalam normatif wahyu Tuhan dan sunnah Nabi tetapi termanifestasi dalam sejarah awal islam dan akan terus dipegang teguh hingga sekarang dan yang akan datang.

Gerakan radikalisme di Indonesia sendiri sudah terjadi sejak zaman dahulu. Pada zaman orde baru dikenal istilah radikalisme kanan dan radikalisme kiri. Radikalisme kiri merujuk pada gerakan politis-sosiologis, sedangkan radikalisme kanan merujuk pada gerakan politis-agamis.

Pada masa orde baru gerakan-gerakan radikal dapat ditangani dengan baik oleh rezim pada waktu itu. Hampir semua gerakan radikal pada masa itu dapat dikendalikan dengan baik dan dikerdilkan perkembanganya.

Namun setelah reformasi pecah, berbagai organisasi dan gerakan-gerakan dari berbagai latar belakang tumbuh subur bak jamur dimusim penghujan. Momentum itulah yang juga menjadi tunggangan berbagai bentuk gerakan Islam yang menjadi sangat beragam.

Jika dicermati, gerakan radikal kiri setelah reformasi seperti mati suri, tidak terlalu menampakan geliat gerakanya. Namun gerakan radikal kanan yang berbasis agama justru terus berkembang dan terus menunjukan akselerasi.

Radikalisme atau ekstrimisme di Indonesia tidak muncul begitu saja. Oleh karena itu perlu ditelisik masalah utama hingga akar-akar dari gerakan radikal dan ekstrim tersebut. Ada berbagai masalah utama yang menyebabkan radikalisme dan ekstrimisme berkembang di Indonesia.

Dengan fishbone analysis dapat kita cari akar masalah dari masalah utama yang timbul dari setap aspek.

 

Dari bagan tulang ikan tersebut dapat kita lihat masalah utama dan bila kita usut lebih dalam lagi, dapat ditarik benang merah akar masalah dari setiap masalah utama gerakan radikalisme dan ekstrimisme Islam di Indonesia.

  • Sosial

Acapkali seseorang dengan pendidikan rendah tidak mengetahui pengetahuan akan penyelesaian masalah dalam lingkunganya. Ketika hal itu terjadi, paham radikal dapat masuk dengan mudah dan terdoktrin dengan kuat. Namun tidak memungkiri paham radikal dan ekstrim masuk pada seorang yang terdidik, semisal dokter, mahasiswa, dosen dan lain sebagainya. Tidak sedikit juga seorang yang terdidik masuk dalam gerakan radikalisme dan ekstrimisme Islam tersebut karena tergiur jargon dan slogan yang yang menjanjikan.

Materi merupakan salah satu bentuk kebanggaan seseorang. Ketika materi tidak dapat dimiliki, seseorang dapat merasa putus asa. Dengan iming-iming dan jargon yang bisa menjadi kebanggaan, seseorang dapat dengan mudah terjerat dalam paham radikal tersebut.

  • Kultur/Budaya

Dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jerat jaring-jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai ( Musa Asy’arie,1992). Oleh karena itu, dominasi barat dari segi kultur yang terus memarjinalkan sendi-sendi kehidupan muslim sehingga muslim semakin tertindas dan terbelakang merupakan suatu hal yang mengancam.

Barat juga merupakan kiblat sekularisme yang mengotori budaya Islam. Maka dari itu, para penggerak paham radikal dan ekstrim menggunakan cara alternatif guna menghancurkan ancaman budaya barat tersebut.

  • Ideologi

Westernisme dianggap oleh mereka sebagai ancaman dalam pengaplikasian syariat Islam, sehingga segala bentuk westernisme harus dihancurkan. Bagaimanapun kita harus mengakui bahwa sekarang ini peradaban barat lebih maju dari peradaban Islam.

Ada semacam ketidakberdayaan umat Islam dalam memposisikan diri sebagai pesaing dalam budaya dan peradaban. Karena hal tersebut, oleh sebagian orang diambilah jalan pintas sebagai bentuk perlawanan tersebut, yaitu dengan jalan kekerasan atas bentuk kekalahan dengan peradaban barat.

  • Politik

Hubungan negara dengan Islam sangat berperan penting dalam perkembangan radikalisme dan ekstrimisme Islam di Indonesia. Ketika negara dan Islam bersikap konfrontatif, maka hal tersebut bisa menjadi pemantik yang dapat menyulut gerakan radikalisme semakin membesar.

Salah satu penyebab hal tersebut adalah ketidakpuasan masyarakat akan sistem dan pelaksanaan pemerintahan yang ada. Banyaknya penyelewengan yang dilakukan penguasa, semisal korupsi, suap, pencucian uang, pelangggaran HAM, dan lain sebagainya.

Hal itu akan menjadi dalil terkuat bagi mereka untuk merongrong sistem yang ada dan berusaha untuk menggantinya. Disaat pemerintah bersifat preventive offensive, mereka akan melakukan berbagai tindakan reaktif atas usaha pemerintah tersebut.

Anggapan mereka tentang sistem dan pelaksanaan pemerintahan merupakan taghut yang bertentangan dengan syariat islam. Dengan jargon demikian akan dengan mudah membakar semangat para pengikut paham tersebut seolah berjihad dijalan tuhan.

  • Agama

Salah satu penyebab gerakan radikalisme dan ekstrimisme Islam adalah faktor sentimen keagamaan, yang berupa solidaritas keagamaan karena tertindas oleh kekuatan tertentu. Bisa dikatakan sebagai faktor emosi keagamaan, bukan faktor ajaran agama Islam sendiri ( Al-Quran dan Hadist ).

Hal itu karena pamahaman ( Ijtihad ) keagamaan yang bersifat interpretatif, dan subjektif. Ketika suatu sumber tekstual Islam dipahami hanya dari makna tekstual sumber tersebut, hal ini bisa menimbulkan isterpretasi yang keliru dari makna kontekstual sumber tersebut.

Hal tersebut disebabkan karena pengetahuan dan pemahamana agama yang belum memadahi. Ditambah sikap ketergesa-gesaan dalam menaksir dalil dan sumber tekstual agama Islam.

Selain kelima aspek tersebut bila kita mencermati, media juga menjadi peranan penting tumbuhnya gerakan radikalisme dan ekstrimisme Islam di Indonesia. Media yang bersikap memojokan Islam juga menjadi faktor munculnya reaksi dengan kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Propaganda-propaganda yang dilakukan media juga menjadi senjata ampuh dan sangat sulit ditangkis sehingga menimbulakan reaksi ekstrim dan radikal atas apa yang ditimpakan pada umat Islam.

Intinya praktek radikalisme dan ekstrimisme yang dilakukan oleh sebagian umat Islam di Indonesia tidak dapat dialamatkan kepada Islam secara universal. Islam tidak mengajarkan radkalisme dan ekstrimisme, tetapi perilaku radikal sekelompok umat Islam merupakan realitas historis-sosiologis yang dimanfaatkan media dan barat untuk menyudutkan Islam.

Menyadari identitas keislaman ( seorang muslim) yang sejati sangat diperlukan untuk menunjukan pada dunia bahwa Islam merupakan agama yang damai dan penuh cinta kasih. Hal tersebut termanifestasikan dalam sikap tasamuh ( toleransi ), moderat, menghormati perbedaan, serta terus menebar pesan damai dan cinta kasih sebagai bentuk Islam yang rahmatan lil ‘alamin.