Rumah Sakit Pertama di Dunia Islam

by

SEBUTAN untuk rumah berobat pada zaman keemasan Ilmu Pengetahuan Islam adalah Bîmâristân’. Istilah modernnya disebut ‘Rumah Sakit’ atau ‘al-Mustasyfa”.

Dalam lembaran sejarah, di dunia Islam telah membangun rumah sakit berlevel tinggi. Mulai desain bangunan hingga manajemen pengelolaan, sekaligus menjadi fakultas-fakultas ilmu kedokteran.

Bîmâristân melahirkan dokter-dokter handal dan mencetuskan berbagai karya dalam bidang kedokteran. Inilah yang menginspirasi teknologi kedokteran di Barat sekarang.

Embrio

Embrio rumah sakit telah dicetuskan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Dalam Perang Khandak, telah dibangun pos kesehatan bagi sahabat yang terluka.

Sa`ad Bin Muadz adalah salah satu pasien yang terluka pada bagian urat nadi di tanganya. Harits bin Kaladah adalah salah seorang dokternya, salah seorang lulusan sekolah kedokteran Jundisabur yang sudah didirikan oleh Kisra pada Abad ke-6 M.

Bangsa Arab mengenal sekolah kedoteran Jundisabur yang didirikan oleh Kisra pada pertengahan abad ke-6 Masehi, Sekolah ini telah menelorkan dokter-dokternya, seperti Harits bin Kaladah yang hidup pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Dia mengimbau sahabat-sahabat Nabi agar berobat kepadanya apabila terserang penyakit.

Jika para sahabat ada yang jatuh sakit, Rasulullah mempersilahkan para sahabat untuk berobat kepadanya.

Selanjutnya, ‘Bîmâristân’ didirikan secara resmi oleh Khalifah Walid Bin Abdul Malik. Jumlahnya semakin meningkat. Bisa dikatakan, ada di setiap pusat-pusat daerah. Di Cordoba sendiri ada berbagai jenis rumah sakit yang jumlahnya sekitar lima puluh buah.‘Bîmâristân’ —berasal dari Persia—memiliki arti yang sama dengan rumah sakit (hospital), Bimar berarti penyakit dan stanberarti lokasi atau tempat.

Desain dan Pengelolaan

Dalam bukunya “Min Rawai` Hadlaratina”, Dr Mushthafa As-Siba`i menggambarakan desain dan pengelolaan secara teliti.  Sejak awal para dokter memilih tempat yang baik untuk pembangunan rumah sakit.

Misalnya saja, rumah sakit Adhudi Baghdad yang dibangun oleh Daulah Bin Buwaih tahun 371 H. Untuk mengetahui kondisi kebersihan lingkunganya, dokter ar-Razy menempatkan empat buah daging mentah selama satu malam di beberapa penjuru. Setelah pagi tiba, tempat daging yang paling segar dipilih sebagai tempat pilihan berdirinya Rumah sakit. Ini sebuah tanda bahwa dilingkungan yang bersih, pasti sedikit kuman yang memakan daging itu.

Adapun pengelolaan di mayoritas seluruh ‘Bîmâristân’ sebagai berikut. Laki-laki dan perempuan dirawat di ruangan berbeda.

Ruangan pun di desain sesuai dengan berbagai jenis penyakitnya. Ada ruangan penyakit dalam seperti sakit mata, jantung, tulang. Ada pula khusus penyakit bagian luar. Setiap bagian terdiri dari para dokter dan dikepalai dokter ahli yang biasa disebut dengan ‘Sa`ur’.

Kamar-kamar, perabotan dan alat-alat kesehatan tertata dengan sangat bersih dan steril. Pembersihan ini dilakukan oleh beberapa pegawai dengn gaji tertentu.

Dalam setiap Bîmâristân’ terdapat apotik yang berisi berbagai macam obat-obatan.

Penangan pasien dilakukan dengan penuh perhatian. Jika penyakitnya tergolong ringan, maka dia cukup diperiksa dan diberi obat. Namun, jika butuh opname maka namanya akan dicatat, dibersihkan di kamar mandi, diberi pakaian khusus, dan ditempatkan di ruangan sesuai jenis peyakitnya. Pemberian makanan dengan piring dan gelas berbeda dan tidak boleh digunakan pasien lain.

Khusus ‘Bîmâristân’ al-Manshuri yang didirikan Raja Malik Mansur Syaifuddin tahun 683 H, mereka memperdengarkan syair merdu atau mendatangkan pendongeng pada pasien. Suara adzan pun dilantunkan dengan merdu yang bersebelahan dengan ‘Bîmâristân’ ini.

Bimaristan di Suriah ini dibangun oleh para ahli kedokteran Muslim sebagai pengganti kuil penyembuhan kuno

Bimaristan di Suriah ini dibangun oleh para ahli kedokteran Muslim sebagai pengganti kuil penyembuhan kuno

Dalam tahap penyembuhan, pasien akan dipindahkan diruangan khusus. Untuk mempercepat proses penyembuhan, pihak ‘Bîmâristân’ akan melakukan pertunjukan komedi. Jika telah benar-benar sembuh maka dia diberi pakaian baru dan uang ‘pesangon’ sampai pasien tersebut benar-benar bisa bekerja dan beraktifitas secara normal. Namun, jika meninggal akan dikafani dan dikebumikan secara terhormat. Model ‘service’ seperti ini berlanjut di Mesir hingga Tahun 1798 M yang membuat orang prancis berdetak kagum.

Bukan Dokter Sembarangan

Para dokter di ‘Bîmâristân’ harus melewati seleksi ketat. Pada masa Khalifah al-Muqtadir tahun 319 H, pernah terjadi kesalahan pengobatan yang mengakibatkan pasien meninggal. Maka Khalifah memerintahkan Sinan Bin Tsabit sebagai dokter ahli untuk menguji seluruh dokter di Baghdad yang mencapai 860 orang. Hanya dokter pribadi Khalifah dan khadim Negara yang tidak diuji.

Secara umum, seorang dokter harus mengadakan peneletian dan diujikan kepada dokter yang lebih ahli. Apabila dia lulus maka dia boleh mengobati pasien di rumah sakit tertentu.

Para dokter tersebut juga sewaktu-waktu mendapat tugas ke berbagai tempat. Seorang kepala daerah bernama Wazir Bin Isa Ali al-Jarrah pernah mengirimkan surat ke Sinan Bin Tsabit, kapala dokter di Baghdad. Uangkapnya “aku khawatir terhadap kondisi para tahanan dipenjara, mereka pasti banyak terserang penyakit karena tempatnya kotor”. Wazir meminta para dokter untuk memeriksa mereka perpekan. Ini berarti, dalam Islam tahanan harus diperlakukan secara “manusiawi”, apalagi ketika jatuh sakit